DARI CEMAS KE CERIA: MEMBANGUN GENERASI NUMERASI INDONESIA
- SH

- Feb 14
- 4 min read
Matematika sering kali dianggap sebagai pelajaran yang menantang. Banyak murid merasakan ketakutan, kegelisahan, bahkan penolakan ketika berhadapan dengan angka dan rumus. Fenomena ini dikenal sebagai kecemasan matematika. Menariknya, kecemasan ini tidak hanya muncul dari diri murid, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh guru dan orang tua.
Sebuah tinjauan sistematis terhadap 20 penelitian yang dilakukan antara tahun 2010 hingga 2022 menemukan bahwa mathematical self-efficacy murid sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan guru dan orang tua. Jika guru dan orang tua menunjukkan kecemasan atau sikap negatif terhadap matematika, anak-anak lebih mudah menginternalisasi kecemasan tersebut. Intinya, sikap negatif orang dewasa terhadap matematika dapat menular, membentuk persepsi anak bahwa matematika adalah sesuatu yang menakutkan, sehingga mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa matematika adalah beban, bukan kesempatan belajar.
Guru sebagai figur utama di kelas memiliki peran besar dalam membentuk sikap murid. Cara mereka mengajar, ekspresi wajah, hingga rasa percaya diri saat menjelaskan soal dapat memengaruhi suasana belajar. Guru yang cemas biasanya terburu-buru, menghindari metode kreatif, dan menunjukkan ketegangan yang ditangkap oleh murid. Akibatnya, murid mulai mengasosiasikan matematika dengan rasa takut. Sebaliknya, guru yang percaya diri dan menggunakan pendekatan menyenangkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Seorang guru sekolah dasar di Jakarta, misalnya, awalnya gugup setiap kali mengajar matematika. Murid-muridnya tegang dan enggan mencoba soal. Setelah mengikuti pelatihan pembelajaran kreatif, ia mulai menggunakan permainan sederhana seperti “matematika lewat cerita” dan “tebak angka”. Perlahan, murid-murid tertawa, berani mencoba, dan tidak lagi takut salah. Perubahan sikap guru secara langsung menurunkan kecemasan murid.
Orang tua juga berperan besar sebagai lingkungan pertama anak. Ketika orang tua menunjukkan kecemasan terhadap matematika, anak menangkap sikap negatif itu dan menganggap matematika memang sulit. Mereka merasa kurang mendapat dukungan saat belajar di rumah, bahkan bisa mengalami tekanan ketika orang tua menuntut hasil tinggi tanpa memberi bantuan efektif. Namun, orang tua juga bisa menjadi sumber motivasi. Seorang ibu di Semarang yang dulu selalu berkata, “Mama memang tidak pintar matematika, jadi jangan berharap banyak,” akhirnya menyadari dampak ucapannya. Setelah mengikuti seminar parenting, ia mengubah pendekatannya. Ia menemani anak mengerjakan soal dengan penuh kesabaran, bahkan ikut belajar bersama. Hasilnya, anak mulai merasa lebih percaya diri, dan nilai matematikanya perlahan meningkat.
Kecemasan matematika yang ditularkan guru dan orang tua berdampak langsung pada perkembangan anak. Anak yang cemas cenderung menghindari pelajaran matematika, merasa tidak mampu sehingga motivasi belajar menurun, mengalami penurunan prestasi akademik, dan kehilangan rasa percaya diri. Dampak ini bahkan bisa memengaruhi pilihan karier di masa depan, terutama di bidang yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
Penelitian memperkuat gambaran ini. Studi Universitas Negeri Jakarta tahun 2024 menemukan bahwa dukungan guru dan keterlibatan orang tua berpengaruh langsung terhadap tingkat kecemasan matematis murid SMP. Murid yang merasa didukung menunjukkan tingkat kecemasan lebih rendah serta hasil belajar lebih baik dibandingkan murid yang kurang mendapat dukungan. Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2023 menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengatasi kecemasan matematika anak SD. Studi kasus menunjukkan bahwa anak yang mendapat dukungan emosional dan bimbingan sabar dari orang tua lebih mampu menghadapi pelajaran matematika tanpa rasa takut berlebihan. Sementara itu, penelitian kuantitatif di Universitas Negeri Malang tahun 2024 dengan sampel 30 murid SD Negeri Pandanwangi 2 menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat kecemasan dan hasil belajar matematika. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa semakin tinggi kecemasan, semakin rendah nilai murid.
Selain guru dan orang tua, pemerintah Indonesia juga mengambil langkah nyata melalui Gerakan Numerasi Nasional (GNN) yang diluncurkan tahun 2025. Program ini bertujuan menumbuhkan budaya numerasi sejak dini dengan cara yang menyenangkan, misalnya melalui taman numerasi, permainan tradisional, dan kegiatan kreatif di sekolah. Dengan tema “Mahir Numerasi, Majukan Negeri”, gerakan ini mengajak sekolah, keluarga, masyarakat, dan media untuk bersama-sama menumbuhkan kecintaan terhadap matematika. Pemerintah menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar meningkatkan kemampuan berhitung, tetapi juga membangun keterampilan berpikir kritis, logis, dan adaptif. Dengan pendekatan yang menggembirakan, anak-anak diharapkan tidak lagi melihat matematika sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa dinikmati.
Mengurangi kecemasan matematika bukanlah tugas satu pihak. Guru perlu menghadirkan pembelajaran kreatif, orang tua memberi dukungan emosional, dan pemerintah menyediakan program yang menyenangkan. Kolaborasi ini akan semakin kuat jika melibatkan lembaga yang peduli pendidikan dan pemerintah daerah. Lembaga-lembaga yang peduli pendidikan berperan mendukung pendidikan melalui pendanaan, pelatihan, dan penyediaan sumber daya. Beberapa Lembaga peduli pendidikan di Indonesia telah menyalurkan bantuan berupa modul numerasi, pelatihan guru, hingga program-program langsung bersama murid yang ditujukan untuk meningkatkan literasi dan numerasi anak-anak. Pemerintah daerah, di sisi lain, berperan sebagai penghubung antara kebijakan nasional dan implementasi di lapangan. Melalui kerja sama dengan sekolah dan komunitas lokal, mereka dapat menginisiasi program matematika yang menggembirakan sesuai konteks budaya dan kebutuhan masyarakat setempat. Beberapa daerah bahkan telah mengintegrasikan permainan tradisional seperti congklak atau dakon ke dalam pembelajaran numerasi, sehingga anak-anak belajar berhitung sambil bermain.
Sinergi antara guru, orang tua, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga peduli Pendidikan menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sehat. Guru tidak lagi bekerja sendiri, orang tua merasa didukung, dan anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan kolaborasi ini, matematika tidak lagi dipandang sebagai momok, melainkan sebagai keterampilan hidup yang penting untuk masa depan. Mari bersama membuat kecemasan matematika ini menjadi keceriaan matematika.



Comments