top of page

Pendidikan Indonesia: Antara Skor dan Makna

  • Writer: SH
    SH
  • Jan 10
  • 3 min read

Di ruang-ruang kelas yang mulai hidup kembali, senyum para guru merekah menyambut grafik peningkatan skor literasi dan numerasi. Rapor Pendidikan Nasional menunjukkan lonjakan signifikan di sekolah-sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka. Di atas kertas, ini adalah capaian yang patut dirayakan. Di SMP, skor literasi mencapai 7,15; di SMA, melonjak ke 9,7. Angka-angka ini menjadi bukti bahwa perubahan kurikulum membawa dampak. Namun, di balik euforia statistik, tersimpan pertanyaan yang lebih mendalam: apakah peningkatan ini benar-benar mencerminkan kemampuan siswa Indonesia dalam berpikir kritis dan menghadapi tantangan nyata?


Kurikulum Merdeka hadir dengan semangat pembebasan. Ia menjanjikan pembelajaran yang lebih reflektif, kontekstual, dan berpihak pada siswa. Guru diberi ruang untuk berinovasi, siswa diajak memahami daripada sekadar menghafal. Modul ajar yang fleksibel dan asesmen yang berorientasi pada kemampuan berpikir menjadi fondasi baru dalam pendidikan kita. Tapi seperti halnya fondasi, ia belum menjamin bangunan yang kokoh. Sebab pendidikan bukan hanya soal rancangan, melainkan soal pelaksanaan dan dampak nyata.


Ketika kita menengok ke panggung internasional, kenyataan menjadi lebih kompleks. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dari rata-rata global. Skor literasi membaca hanya mencapai 359, numerasi 366, dan sains 383. Lebih dari 80 persen siswa Indonesia berada di bawah level 2—artinya mereka belum mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi kompleks dan kontekstual. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah cermin yang memperlihatkan bahwa kita belum sepenuhnya berhasil membekali siswa dengan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang dibutuhkan di dunia nyata.


Refleksi ini semakin kuat ketika kita melihat studi yang dilakukan oleh dua ekonom peraih Nobel, Esther Duflo dan Abhijit Banerjee, di India (2000-2005). Mereka menemukan bahwa anak-anak penjual di pasar Delhi dan Kolkata mampu melakukan perhitungan matematika kompleks secara mental—menghitung harga barang dalam satuan gram, memberi kembalian dengan tepat, dan menggunakan strategi pembulatan untuk mempercepat kalkulasi. Namun, ketika diminta menyelesaikan soal matematika formal yang lebih sederhana, seperti pembagian dasar, mereka gagal. Banerjee menyatakan bahwa kemampuan matematika kontekstual tidak otomatis berpindah ke ranah abstrak. Sebaliknya, siswa yang unggul dalam matematika formal sering kali kesulitan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Duflo menambahkan bahwa pendekatan konkret dan abstrak harus berjalan beriringan. Pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan satu sisi.


Fenomena ini juga tercermin di Indonesia. Penelitian Ariyadi Wijaya tentang kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal PISA numerasi (2013) menunjukkan bahwa hambatan utama terjadi pada tiga tahap penting:

  • (1) kegagalan mengidentifikasi kata kunci atau permasalahan dalam soal,

  • (2) kesulitan menggunakan konsep matematika yang sesuai, dan

  • (3) kesulitan menyajikan kesimpulan yang bermakna.

Dalam studinya, banyak siswa tidak mampu menafsirkan teks panjang soal PISA, salah memilih strategi matematis, dan berhenti setelah menemukan angka tanpa mengaitkan kembali ke konteks. Temuan ini memperkuat gambaran bahwa skor tinggi di asesmen nasional belum otomatis mencerminkan kemampuan transfer pengetahuan ke situasi nyata.


Refleksi serupa muncul dari peneliti pendidikan Rehan Fidiah yang menyebut bahwa pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya membentuk daya pikir kritis siswa. Banyak guru masih terjebak pada target capaian skor, bukan proses pembentukan nalar (2024). Penelitian dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) merekomendasikan pendekatan berbasis proyek dan pembelajaran kontekstual sebagai strategi yang lebih efektif. Sementara itu, Jihan Madubun menyoroti bahwa meskipun skor AKM tinggi, kemampuan kontekstual siswa masih rendah. Ini menunjukkan bahwa transformasi kurikulum belum sepenuhnya menyentuh esensi pembelajaran.


Kita perlu bertanya lebih dalam: apakah siswa kita mampu membaca dunia, bukan hanya membaca teks? Apakah mereka mampu berhitung untuk hidup, bukan hanya untuk ujian? Apakah mereka mampu berdialog dengan kenyataan, bukan sekadar mengulang teori? Sebab pendidikan yang baik bukan hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak.


Merayakan capaian AKM tentu patut dilakukan. Ia adalah bukti bahwa kita bergerak, bahwa ada semangat perubahan yang mulai menyala. Tapi perayaan ini harus disertai kesadaran. Pendidikan bukan soal skor semata. Ia adalah proses membentuk manusia: yang merdeka dalam berpikir, kritis dalam menilai, dan kontekstual dalam bertindak. Kita tidak bisa puas dengan angka jika angka itu tidak menjelma menjadi kemampuan hidup. Kita tidak bisa bangga dengan grafik jika grafik itu tidak mencerminkan daya tahan siswa menghadapi kompleksitas dunia.


Ki Hadjar Dewantara pernah berkata, “Pendidikan adalah usaha untuk memerdekakan manusia.” Maka, mari kita rayakan capaian ini dengan hati yang terbuka dan pikiran yang jernih. Mari kita sambut sebagai awal dari perjalanan panjang menuju pendidikan yang benar-benar membebaskan. Karena pendidikan yang baik bukan hanya terlihat di rapor, tetapi terasa dalam kehidupan—dalam cara siswa memahami dunia, mengambil keputusan, dan berkontribusi secara bermakna.

 
 
 

Comments


Thanks for subscribing!

  • Youtube
  • Whatsapp

©2020 by RUMAHJJ. Proudly created with Wix.com

bottom of page